iklan
Teori-Teori Klasik Dan Neoklasik Administrasi Administrasi Publik - Teori Organisasi Neoklasik yang dalam perspektifnya melihat suatu
organisasi sebagai suatu rangkaian keputusan, yaitu seri dari pilihan-pilihan
yang menghasilkan putusan yang bersifat rasional yang terkait dan terikat oleh
tujuan organisasi.
![]() |
| Teori-Teori Klasik Dan Neoklasik Administrasi Administrasi Publik |
Harmon dan Mayer menyebutkan perspektif Neoklasik sebagai Decision Set
Theories atau teori-teori keputusan. Memandang instrumental rasionality atau
rasionalitas instrumental sebagai esensi bagian organisasi manusia yang disebut
sebagai administrasi.
Menurut pandangan dari perspektif Neo Klasik ini ada
empat karakteristik utama perspektif keputusan yang perlu diperhatikan.
- Pembuatan keputusan adalah focal point sari administrasi.
- Kegiatan-kegiatan yang mengarah pada pembuatan keputusan-keputusan misalnya data analisis menetukan prioritas dan mengkomunikasikan keputusan-keputusan tersebut.
- Inti dari mode of operation di dalam administrasi adalah instrumental rationality.
- Ditekankan pada menemukan cara-cara yang cocok pada tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
- Ukuran utama dari kapasitas organisasi dan administrasi serta kegiatannya adla efisiensi.
- Ada suatu penekanan dari perspektif ini tentang peranan organisasi dan bukannya peranan organisasi dan bukannya peranan individu dalam kaitannya dengan proses pembuatan keputusan (Harmon dan Mayer, 1989:123-125)
A. Teori Klasik Administrasi
1. Birokrasi Max Webber
a. Konsep Birokrasi
Fenomena birokrasi telah mendominasi pembicaraan
mengenai organisasi, administrasi (termasuk administrasi public)dan manajemen
selama lebih sari satu abad. Ketika Webber
pertama kali dengan tipe ideal birokrasinya sama sekali tidak yang paling tepat
untuk semua kegiatan bersama manusia. Namun, kita menyaksikan bahwa birokrasi
telah menjadi paradigma yang dominan dalam studi tentang organisasi,
administrasi dan manajemen.
Birokasi sering didefinisikan sebagai unit
administrasi atau kantor niaga. Ralph P
Hummel (1982:2), birokrasi dipergunakan untuk semua organisasi modern, baik
public atau privat termasuk di dalamnya bisnis dan perusahaan industrial yang
kedudukannya bersama-sama dengan lembaga pemerintah menjalankan pelayanan
public sesuai dengan prinsip-prinsip rasional dan modernisasi.
Yahya Muhaimin, birokrasi
sebagai keseluruhan aparat pemerintah sipil dan militer yang melakuka tugas
membantu pemerintah dan menerima gaji dari pemerintah karena statusnya itu.
Agus Dwiyanto (1998:10),
birokrasi merupakan alat penunjang utama di dalam administrasi modern.
Ripley dan Franklin (1982:30),
birokrasi bukan bentuk organisasi yang hanya dimiliki oleh pemerintah.
Perusahaan, Universitas, lembaga-lembaga keagamaan atau organisasi lainnya
semuanya dapat menciptakan dan menggunakan birokrasi untuk menjalankan misinya.
Birokrasi juga sering disbut sebagai kekuasaan (kratos) pada
meja (biro, bureau). Birokrasi berarti pertunjukkan kekuasaan (kewenangan)yang
berlangsung melalui prosedur yang ditetapkan berdasarkan peraturan
perundang-undangan.
Caiden (1987),
birokrasi peerintah sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari (unavoidable).
Tulisan tentang birokrasi Weber ini baru munsul di
tahun 1921 ketika tetbit buku Witchchraft
und Gesselchaft. Menurut Martin
Albrow, Webber tidak pernah
menggunakan istilah “birokrasi” dalam tulisannya itu. Istilah itu
digunakan oleh Vincent de Gournay ketika
menguraikan system pemerintahan Prusia di tahun 1745 (Miftah Thoha, 1991).
Menurut Gourney dalam Setiyono
(2004:10) birokrasi berasal dari kata bureau, yang berarti meja tulis dimana para
pejabat saat itu bekerja dibelakangnya.
Webber membedakan 3
macam otoritas sebagai berikut :
- Otoritas Tradisional, bertumpu pada kepercayaan dan rasa hormat pada tradisi dan orang-orang yang mengemban pelaksanan tradisi.
- Otoritas Kharismatik, bertumpu pada keyakinan terhadap pengabdian, kepahlawanan, jasa dan kemampuan luar biasa dari seseorang.
- Otoritas Legal Rasional, berdasarkan pada keyakinan akan adat hukum yang diciptakan secara rasional dan juga pada kewenangan seseorang yang melaksanakan tata hukum itu sesuai prosedur yang ditetapkan.
2. Tipe Ideal Birokrasi Weber
Secara ringkas karateristik utama birokrasi ideal dari Weber ini adalah sebagai berikut:
- Aturan-aturan dan procedural formal
- Spesialisasi Pekerjaan
- Kejelasan hierarki
- Pengembangan karir berdasarkam merit system
- Impersonality
- Adanya objektifitas dalam melaksanakan tugas yang berkaitan dengan suatu jabatan dalam organisasi
- Kegiatan administrative.
Blau dan Meyer
mengemukakan cirri-ciri pokok struktur birokrasi yang ideal dari Weber adalah
sebagaimana berikut:
- Terdapat pembagian tugas berdasarkan spesialisasi tertentu
- Pengorganisasian kantor mengikuti prinsip hierarki dan ada prinsip delegasi wewenang Pelaksanaan tugas diatur oleh suatu system peraturan yang abstrak dan konsisten
- Seorang pejabat yang ideal melaksakan tugas-tugasnya Sifat pekerjaan berdasarkan kualifikasi tekni
- Ada jenjang karier
- Bertujuan memaksimalkan efisiensi dalam organisasi
Menurut Mintzberg dalam
Purwanto (2001:23) beberapa hal lain yang berkaitan dengan tipe ideal adalah :
- Adanya standardisasi proses kerjaUkuran-ukuran desain utamanya adalah formalisasi perilaku, spesialisasi kerja vertikal dan horizontalBirokrasi ideal cocok dalam situasi lingkungan yang tenang dan stabil, struktur dan kebutuhan masyarakat masih sederhana.
2. Konsep Manajemen Dalam Administrasi
Publik
a. Scientific Management dari Taylor
Pada tahun 1911 ia meluncurkan sebuah buku yang berjudul
Principles of Scientific Management.
Karya Taylor ini merupakan awal munculnya teori dalam bidang organisasi dan
manajemen. Taylor mengharapkan bahwa pekerja dan organisasi akan sama-sama
memproleh keuntungan. (Purwanto, 2001:25). F.W Taylor dalam memperbaiki manajemen organisasi adalah
sebagai berikut :
Menggantikan cara yang
asal-asalan dengan ilmu pengetahuan yang tersusun
Mengusahakan
kerukunan dalam gerakan kelompok dan bukannya
ketidakrukunan
Mencapai
kerjasama manusia dan bukannya individualism yang kacau
Bekerja untuk output yang
maksimumbdan bukannya output yang terbatas
Mengembangkan
semua pekerja sampai taraf yang stinggi-tingginya untuk kesejahteraan maksimum
mereka sendiri dan perusahaan mereka.
b. Prinsip-prinsip Umum Administrasi dari Henry Fayol
Fayol mengembangkan teori berusaha menuliskannya
sebagai manajer, ia berusaha menjelaskan prinsip-prinsip umum yang dapat
diterapkan pada semua level administrasi dan berusaha menjelakan fungsi-fungsi
yang harus dilakukan oleh seorang manajer (Purwanto, 2001:26).
Fayol menemukan bahwa aktivitas sebuah perusahaan
industry bias dibagi ke dalam 6 bagian sebagi berikut:
- Teknis (produksi)
- Dagang (beli, jual, pertukaran)
- Keuangan (pencarian, penggunaan yang terbaik, modal)
- Keamanan ( perlindungan bagi milik dan orang-orang)
- Akuntansi (termasuk statistic)
- Manajerial (perencanaan, organisasi , pimpinan, kerja sama dan pengawasan)
Fayol
juga merupakan pendiri dari Center For
Administrative Studies di Paris menjelaskan 14 Prinsip manajemen sebagai berikut :
- Division of Labour (pembagian kerja)
- Authority (kewenangan)
- Discipline (disiplin)
- Unity of Command (kesatuan komando)
- Unity of Management (kesatuan arah manajemen)
- Subordination of individual interests to the common good (menomorduakan kepentingan perorangan atau individu dari kepentingan umum atau kepentingan bersama)
- Remmuneration (penggajian atau pemberian upah)
- Centralization (sentralisasi)
- The Hierarchy (jenjang kedudukan)
- Order (tata tertib)
- Equity (keadilan/kesamaan)
- Stability of staff (kestabilan dari staff, stabilitas masa jabatan)
- Initiative (inisiatif atau prakarsa)
- Esprit de Corps (semangat korps)
B. Teori Neoklasik Administrasi
1. Herbert Simon Administrative Behavior
Publikasi utama dari kelompok Neo Klasik adalah tulisan
Herbert Simon, Administrative Behavior yang
terbit tahun 1947. Buku ini memberikan dampak yang luas di dalam pemikiran
teori organisasi dan melampaui rasionalitas, batas-batas Neoklasik karena
meskipun punya argumentasi tentang pentingnya instrumental rasionalitas, tetapi
buku ini juga menjelaskan tentang keterbatasan dari rasionalitas si dalam
setting organisasi.
Di dalam
Administrative Behavior terdapat tiga tema sentral yaitu :
- Keputusan adalah kegiatan sentral dari organisasi
- Instrumental reason atau alasan-alasan instrumental adalah bersifat seentral di dalam perbuatan keputusan administrative dan pemahaman organisasi.
- Konsep satisfying atau memuaskan yang merupakan pembatalan yang signifikan terhadap rasionalitas dan dampaknya terhadap perilaku organisasi merupakan kondisi utama di dalam pembuatan keputusan.
Simon mengajukan
konsep pengambilan keputusan
yang bersifat satisfying sehingga pandangan Simon ini
dilihat dari 3 aspek :
1. Keputusan
adalah dasar dari teori administrasi
2.
Konsep Instrumental rationality
3.
Konsep Satisfying
