iklan
Kas, Persedian dan Penyusutan Aktiva Tetap - Aset tetap dalam akuntansi adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan
dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak
lain, atau untuk tujuan administratif; dan diharapkan untuk digunakan selama
lebih dari satu periode.[1] Jenis aset
tidak lancar ini biasanya dibeli untuk
digunakan untuk operasi dan tidak dimaksudkan untuk dijual kembali.
![]() |
| Kas, Persedian dan Penyusutan Aktiva Tetap |
Contoh aset
tetap antara lain adalah properti, bangunan, pabrik,
alat-alat produksi, mesin,
kendaraan bermotor, furnitur, perlengkapan kantor, komputer, dan lain-lain.
Aset tetap biasanya memperoleh keringanan dalam perlakuan pajak. Kecuali tanah atau lahan, aset tetap merupakan subyek
dari depresiasi atau
penyusutan.
Kas
Kas adalah uang
kas yang ada di perusahaan dan uang yang disimpan di bank, yang siap dan bebas dipergunakan
untuk membiayai kegiatan umum perusahaan.
Unsur-unsur yang dapat
dianggap sebagai kas adalah :
-
Uang kas perusahaan (cash on hand)
-
Rekening giro di bank
-
Cek-cek tunai yang diterima
-
Pos wesel
-
Travel’s check
Unsur-unsur yang tidak
digolongkan sebagai kas adalah :
-
Cek mundur (post date checks)
-
Cek kosong dari pihak lain
-
Perangko
-
Dana yang disisihkan untuk tujuan tertntu
-
Rekening gira pada bank luar negri yang tidak dapat
segera dipakai.
Kas Kecil
(Petty Cash)
Kas kecil
merupakan kas yang ada di perusahaan yang digunakan untuk pengeluaran rutin dan
bernilai relatif kecil. Kas kecil selain di perusahaan induk juga di tempatkan
di proyek-proyek atau cabang-cabang perusahaan. Kas Kecil merupakan bagian dari
kas perusahaan.
Metode
pengisian kembali Petty Cash :
- Metode Imperest (bersaldo tetap)
Merupakan
sistem pengisian kembali dengan mempertahankan saldo kas kecil bernilai tetap.
Ketika kas kecil digunakan sama sekali tidak perlu dilakukan penjurnalan,
tetapi setelah terkumpul jumlah tertentu dilakukan penukaran (reinbursement)
sejumlah pengeluaran dan dijurnal.
Jurnal
pembentukan kas kecil :
Kas Kecil xxxx
Bank/Kas
xxxx
Jurnal
pengisian kembali :
Biaya-biaya xxxx
Bank /Kas xxxx
- Metode Fluktuatif (saldo berubah-ubah)
Merupakan
sistem pengisian kembali kas kecil berdasarkan kebutuhan operasional. Setiap
ada pengeluaran kas kecil langsung dicatat mengurangi kas kecil, sehingga saldo
kas kecil akan selalu berubah-ubah. Ketika kas kecil digunakan dilakukan
penjurnalan langsung.
Jurnal
pembentukan kas kecil :
Kas Kecil xxxx
Bank/Kas
xxxx
Jurnal ketika
ada pengeluaran :
Biaya-biya xxxx
Kas Kecil
xxxx
Jurnal
pengisian kembali :
Kas Kecil xxxx
Bank /Kas xxxx
Pengendalian Internal Penerimaan dan Pengeluaran Kas
Untuk menjaga kekayaan perusahaan khususnya
Kas perlu diadakan suatu sistem pengendalian yang berupa prosedur penerimaan
dan pengeluaran Kas. Pengendalian atas penerimaan kas akan dapat menjamin bahwa
semua penerimaan kas telah disetor ke bank dan catatan akuntansi perusahaan
diselenggarakan secara benar. Pengendalian internal atas pengeluaran kas harus
memberikan keyakinan yang mendalam bahwa pembayaran dilakukan hanya untuk
transaksi-transaksi yang telah mendapatkan otorisasi dan juga menjamin bahwa
kas digunakan secara efisien.
Aspek-aspek Pengendalian
interen Penerimaan Kas :
1.
Seleksi karyawan dan pelatihan
yang memadahi,
2.
Adanya pemisahan tugas antara
pemegang uang dan bagian pencatatan,
3.
Adanya otorasasi atas penerimaan
kas,
4.
Adanya dokumen pendukung atas
setiap penerimaan kas,
5.
Adanya penggunaan cash register,
6.
Adanya jaminan bahwa kas disetor
ke bank pada esok harinya.
Aspek-aspek Pengendalian
interen Pengeluaran Kas :
1.
Setiap pengeluaran kas dilakukan
dengan cek, kecuali atas pengeluaran dalam jumlah relatif kecil dilakukan
menggunaqkan kas (petty cash),
2.
Setiap pengeluaran harus ada
otorisasi pimpinan seperti yang telah ditetapkan oleh perusahaan,
3.
Adanya pemisahan tugas antara
karyawan yang memegang uang dengan karyawan yang bertugas sebagai pencatat,
4.
Diperlukan pemeriksaan internal
untu mengecek apakah transaksi pengeluaran kas telah dilakukan sesuai dengan
aturan kebijakan manajemen,
5.
Adanya dokumen pendukung atas
setiap pengeluaran kas,
6.
Buku cek yang belum digunakan
harus disimpan dalam kotak penyimpan dan harus dalam pengawasan manajemen.
Persediaan
Persediaan merupakan
aset berwujud yang diperoleh perusahaan
dengan tujuan untuk dijual kembali, baik yang langsung dijual kembali seperti
didapatkannya ataupun melalui proses lebih lanjut.
Metode penentuan Harga
Pokok ;
- Metode identifikasi khusus (specific identification
method)
Metode ini digunakan oleh perusahaan-perusahaan yang
memperdagangkan barang yang dengan mudah diidentifikasi satu per satu. Sebagai
contoh perusahaan dealer mobil.
Contoh : 4 Januari membeli 1 unit mobil 20.000.000,-, 10 Januari
membeli 1 unit mobil 22.000.000,-. Apabila tanggal 20 januari mobil yang dibeli
tgl 4 laku, maka harga pokok yang dibebankan adalah 20.000.000,-.
- Metode Rata-rata Tertimbang (Average Method)
Metode ini menghitung Nilai persediaan dengan membagi
Harga Pokok barang yang dapat dijual (persediaan awal + pembelian) dengan
Jumlah Unit yang tersedia untuk di jual.
Contoh : Persediaan awal total 50 unit senilai Rp. 250.000,-,
pembelian barang dagangan 100 unit @ Rp. 3.500 = Rp. 350.000,-.
Harga
Pokok nya adalah = Rp. 600.000 / 150
unit = Rp. 4.000 / unit.
- Metode
FIFO (First In First Out) / Masuk Pertama Keluar Pertama
Dalam metode
LIFO perusahaan harus mempunyai catatan mengenai kapan dan harga berapa
pembelian tersebut dilakukan. Harga beli dari barang yang pertama masuk dalam
persediaan akan menjadi biaya yang pertama kali dibebankan pada haraga pokok
penjualan. Biaya persediaan akhir berdasarkan pada harga pembelian barang yang
paling akhir.
Contoh :
Persediaan
awal ( 10 unit @ Rp. 1.000 ) Rp.
10.000,-
Pembelian
;
5 Jan
transk. no. 1 (25 unit @ Rp 1.400) Rp. 35.000
7 Jan
transk. No.2 (25 unit @ Rp 1.800) Rp. 45.000
Harga
Pokok Barang tersedia untuk di jual Rp. 90.000,-
Dijual
40 unit seharga @ Rp 2.000 = Rp. 80.000,-
Berapa laba dan sisa persediaan dihitung dengan metode FIFO ?
Jawab :
Harga Pokok Penjualan 40 unit ;
10 unit @ Rp.
1.000 Rp. 10.000
25unit @ Rp. 1.400 Rp. 35.000
5 unit @ Rp. 1.800 Rp. 9.000
______ _________
Total 40
unit HPP Rp.
54.000
Laba = Rp. 80.000 – Rp. 54.000 = Rp.26.000,-
Sisa persediaan = 20 unit x 1.800 = Rp. 36.000,-
- Metode
LIFO (Last In First Out) / Masuk Terakhir Keluar Pertama
Dalam metode
LIFO perusahaan juga harus mempunyai catatan mengenai kapan dan harga berapa
pembelian tersebut dilakukan. Harga beli dari barang yang terakhir masuk dalam
persediaan akan menjadi biaya yang pertama kali dibebankan pada haraga pokok
penjualan. Biaya persediaan akhir berdasarkan pada harga pembelian barang yang
paling awal.
Contoh :
Persediaan
awal ( 10 unit @ Rp. 1.000 ) Rp. 10.000,-
Pembelian
;
5 Jan
transk. no. 1 (25 unit @ Rp 1.400) Rp.
35.000
7 Jan
transk. No.2 (25 unit @ Rp 1.800) Rp.
45.000
Harga
Pokok Barang tersedia untuk di jual Rp.
90.000,-
Dijual
40 unit seharga @ Rp 2.000 = Rp. 80.000,-
Berapa laba dan sisa persediaan dihitung dengan metode LIFO ?
Jawab :
Harga
Pokok Penjualan 40 unit ;
25 unit @ Rp. 1.800 Rp. 45.000
15unit
@ Rp. 1.400 Rp. 21.000
______ _________
Total 40 unit HPP Rp.
66.000
Laba
= Rp. 80.000 – Rp. 66.000 = Rp.14.000,-
Sisa persediaan ;
- 10 unit x 1.000 = Rp. 10.000,-
- 10
unit x 1.400 =
Rp. 14.000,-
Total
20 unit
= Rp. 24.000,-
Penyusutan (Depresiasi) Aktiva Tetap
- Metode
Garis Lurus (Straight Line Method)
Umur Ekonomis
Contoh
: Beli Mobil Rp. 100.000.000, umur ekonomis 5 tahun ditaksir
Nilai sisanya 40 %, berapa penyusutan mobil / tahun ?
Penyusutan =
100.000.000 - 40.000.000 = Rp. 15.000.000
/ tahun
- Metode
Jumlah unit Produksi
Beban
Penyusutan = Harga Perolehan – Nilai Sisa
Contoh : Beli Mesin Rp. 100.000.000,
taksiran operasi mesin 10.000 jam
Nilai sisanya 30 %, berapa penyusutan
mobil / tahun ?
Beban penyusutan = 100.000.000 –
30.000.000
=
Rp. 7.000 / jam
- Declining Method / Metode Saldo Menurun
Penyusutan yang
dibebankan dari tahun pertama ke tahun berikutnya selalu menurun. Tarif yang
digunakan 2 kali dari pembagian umur ekonomis. Misal umur ekonomis 5 tahun ,
tarif = 40 % ( 100 % ; 5 x 2 )
Beban Penyusutan = Tarif
Penyusutan x Nilai Buku awal
Contoh : Kendaraan dibeli dg harga Rp.
22.000.000, ditaksir umur ekonomis 5 tahun, nilai sisa Rp. 1.000.000,- berapa
penyusutannya ?
Thn
Harga Tarif Nilai
Buku Penyst. Akum Peny Nilai Buku
Perolh Awal th Akhir
1
22.000.000 40 % 22.000.000
8.800.000 8.000.000 13.200.000
2
22.000.000 40 % 13.200.000
5.280.000 14.080.000 7.920.000
3
22.000.000 40 % 7.920.000
3.168.000 17.248.000 4.752.000
4
22.000.000 40 % 4.752.000
1.900.800 19.148.800 2.851.200
5
22.000.000 2.851.200 1.851.200 21.000.000 1.000.000
Tahun ke-5, beban
penyusutan 1.140.480 (2.851.200 x 40%), tetapi karena nilai sisa Rp.
1.000.000,- , maka beban penyusutan tahun ke – 5 dihitung 1.851.200
(2.851.200-1.000.000).
- Metode Jumlah Angka Tahun (Sum of Year Digit)
Metode ini beban penyusutan stiap tahun
semakin menurun juga selama masa pemakaiannya.
Rumus Jumlah angka
tahun = N (N+1) , N = umur ekonomis
Untuk masa manfaat 5 tahun maka,
Jumlah angka tahunn = 5 (5+1)
= 15
Masa manfaat 5 tahun angka pembilang 5
untuk tahun ke-1, 4 untuk tahun ke-2 dst.
Penyusutan =
Tarif Penyusutan x ( Harga Perolehan – Nilai Sisa)
Contoh : Kendaraan dibeli dg harga Rp.
22.000.000, ditaksir umur ekonomis 5 tahun, nilai sisa Rp. 1.000.000,- berapa
penyusutannya ?
Beban Penyusutan tahun pertama ;
Beban Penyusutan = 5 x
(22.000.000-1.000.000) = 7.000.000
Tahun berikutnya ;
Thn
Harga Tarif Nilai Prlh Penyust.
Akum Peny Nilai Buku
Perolh Nilai sisa Akhir
1
22.000.000 5/15 21.000.000
7.000.000 7.000.000 15.000.000
2
22.000.000 4/15 21.000.000
5.600.000 12.600.000 9.400.000
3
22.000.000 3/15 21.000.000
4.200.000 16.800.000 5.200.000
4
22.000.000 2/15 21.000.000
2.800.000 19.600.000 2.400.000
5
22.000.000 1/15 21.000.000
1.400.000 21.000.000 1.000.000
