iklan
Akuntansi Perusahaan Dagang - Perusahaan
Dagang merupakan perusahaan yang dalam aktifitasnya melakukan perdagangan
dengan cara membeli barang dari supplier untuk dijual kembali secara
keseluruhan kepada pelanggan tanpa melalui proses produksi.
![]() |
| Akuntansi Perusahaan Dagang |
Pendapatan yang dihasilkan dari
penjualan perusahaan dagang disebut pendapatan penjualan atau disingkat
menjadi penjualan. Pendapatan utama dari perusahaan dagang adalah
pendapatan yang berasal dari penjualan, sedang Beban utama dari perusahaan
dagang adalah Harga Pokok Penjualan (HPP)/CGS (Cost of Good Sold).
Harga Pokok Penjualan merupakan biaya
dari barang yang dijual biaya-biaya yang melekat atas perolehan barang
tersebut. Penjualan dikurangi Harga Pokok Penjualan mendapatkan Laba/Rugi
Kotor.
Barang dagangan yang belum terjual
pada akhir periode akuntansi disebut Persediaan barang dagangan (merchandise inventory), dan menjadi
bagian dari Aktiva Lancar dalam Laporan Keuangan Neraca. Dan ketika persediaan
terjual akan dibebankan sebagai beban utama berupa Harga Pokok Penjualan,
disini akan mengurangi/mengkredit akun persediaan, dan HPP terkelompok dalam akun Laba Rugi.
Sistem
Persediaan Barang Dagangan.
Ada dua sistem akuntansi dalam merode pencatatan
persediaan, yakni Sistem Persediaan
Periodik (periodic inventory system) dan
Sistem Persediaan Perpetual (perpetual inventory sistem)
Sistem persediaan
periodik biasanya digunakan oleh perusahaan yang menjual barang
relatif murah, dan sistem ini tidak melakukan pencatatan atas mutasi persediaan
barang dagangan, dengan pertimbangan biaya untuk pencatatan yang sangat besar. Akibatnya untuk
memperoleh informasi jumlah persediaan yang akan digunakan untuk menyusun
laporan keuangan, perusahaan harus melakukan perhitungan secara
periodiksekurang-kurangnya sekali dalam satu tahun.
Sistem persediaan perpetual, perusahaan
akan mempertahankan suatu catatan yang kontinyu dalam jumlah persediaan yang
tersedia. Sehingga lebih memudahkan untuk pengawasan, setiap pembelian dan
penjualan barang dagangan dicatat dalam suatu akun persediaan. Dengan cara ini
saldo dan jumlah pembelian serta penjualan dapat diketahui dari catatan
persediaan setiap saat. Penghitungan barang juga tetap dilakukan untuk
mencocokan dengan catatan paling tidak setahun sekali.
Perbedaan antara Sistem Periodik dan
Sistem Perpetual :
Sistem Persediaan Periodik
- Tidak ada
pencatatan atas persediaan untuk semua pembelian dan penjualan.
- Tidak
mempunyai buku tambahan (subsisiary
ledger) atau kartu persediaan.
- Penghitungan
persediaan harus dilakukan paling tidak setahun sekali, untuk menyusun
laporan keuangan.
- Biasa
dugunakan untuk barang dagangan yang murah.
- Kurang
baik untuk pengendalian barang dagangan.
- Pembelian
dicatat dalam akun Pembelian.
Sistem Persediaan Perpetual
- Catatan
yang kontinyu mengenahi barang dagangan yang dibeli dan dijual.
- Mempunyai
buku tambahan (subsisiary ledger)
atau kartu persediaan.
- Tidak
perlu dilakukan penghitungan persediaan kecuali pada akhir tahun, untuk
menyusun laporan keuangan.
- Dapat
digunakan untuk semua jenis barang.
- Kurang
baik untuk pengendalian barang dagangan.
- Pembelian
dicatat dalam akun Persediaan.
Ayat Jurnal pencatatan Sistem Periodik :
Pembelian xxxxx
Kas/Hutang
dagang xxxxx
Ayat Jurnal pencatatan Sistem Perpetual :
Persediaan xxxxx
Kas/Hutang
dagang xxxxx
Potongan Pembelian
Potongan Pembelian ada
dua jenis potongan, yaitu Potongan perdagangan atau potongan kuantitas (quantity discount) dan potongan tunai (cash discount).
Potongan kuantitas (quantity
discount) diperoleh dari pembeli apabila membeli dalam jumlah yang
banyak. Makin banyak kuantitas barang yang dibeli makin semakin rendah harga
per unitnya. Potongan kuantitas ini tidak memerlukan pencatatan, Ayat jurnal
(journal entry) atas pembelian dibuat berdasarkan harga pembelian bersih yaitu
setelah dikurangi potongan kuantitas.
Contoh : Toko mebel, Beli
kursi dengan harga @ Rp. 2.000.000,- , Beli 3 kursi potongan 5 %, beli 4 – 9
kursi dapat potongan 10 %.
Bila beli 5 kursi = 5 x 1.800.000,- (diskon = 2.000.000 x
10%) = Rp. 9.000.000,-
Total diskon = 5 x 200.000,-
= Rp. 1.000.000,-
Jurnalnya :
Persediaan Rp. 9.000.000,-
Hutang dagang Rp.
9.000.000,-
(tidak ada jurnal atas
potongan pembelian Rp. 1.000.000,-, tapi langsung dijurnal harga pembelian
bersihnya.)
Potongan tunai (cash
discount), merupakan potongan/hadiah karena pembayaran yang lebih
cepat, biasanya diberikan dengan syarat yang dinyatakan dengan kode potongan
dan waktu.
Contoh : 1 Maret 20xx Beli 5 buah kursi @ Rp. 2.000.000,- secara
kredit dengan syarat pembayaran 5/10n/30. Artinya bila dibayar sampai dengan
tanggal 10 mendapat potongan 5%, dengan jangka waktu kredit 30 hari.
Jurnal yang dibuat :
1 Maret Persediaan 10.000.000,-
Hutang
dagang 10.000.000,-
(mencatat
pembelian secara kredit)
10 Maret Hutang
dagang 10.000.000,-
Kas 9.500.000,-
Persediaan 500.000,-
(pelunasan
kredit dalam periode potongan / 10.000.000 x 5%)
30 Maret Hutang
dagang 10.000.000,-
Kas 10.000.000,-
(pelunasan
kredit melewati periode potongan/tanpa diskon)
Retur Pembelian dan Pengurangan Harga
Retur
pembelian (purchase return) biasanya
dilakukan apabila barang yang dibeli rusak, cacat atau tidak cocok dan sudah
melalui kesepakatan atas pembelian barang. Tetapi perusahaan dapat melakukan
pilihan lain atas barang yang mau di retur dengan cara memberikan pengurangan
harga (purchase allowance).
Karena
retur dan pengurangan harga ini mengurangi biaya persediaan, maka dalam sistem
perpetual dicatat dengan mengkredit akun Persediaan Barang Dagangan. Dokumen
yaqng digunakan adalah nota debet yang dibuat perusahaan atau nota kredit dari
penjual.
Contoh : 1 Maret
20xx Beli 5 buah kursi @ Rp. 2.000.000,-
secara kredit dengan syarat pembayaran 5/10n/30. 5 Maret mengembalikan 2 kursi karena rusak.
Jurnal yang dibuat :
1 Maret Persediaan 10.000.000,-
Hutang
dagang 10.000.000,-
(mencatat
pembelian secara kredit)
5 Maret Hutang
dagang 4.000.000,-
Persediaan 4.000.000,-
(Retur
pembelian 2 kursi x 4.000.000,-)
Misalkan pada 6 Maret
terdapat 1 kursi ada kerusakan kecil, perusahaan memilih untuk tidak di retur, tapi milih
mendapat potongan harga, misalnya sebesar Rp. 700.000,-
Jurnal yang dibuat :
6 Maret Hutang
dagang 700.000,-
Persediaan 700.000,-
Biaya Transportasi
Istilah
FOB (free on board) menentukan kapan
hak pemilikan barang berpindah dari penjual ke pembeli.
FOB
Shipping point berarti hak pemilikan berpindah pada saat persediaan lepas
dari tempat usaha penjual, yaitu tempat pemberangkatan (shipping point), dalam
hal ini barang sudah menjadi hak pembeli dan karena itu biaya transportasinya
ditanggung oleh pembeli.
FOB destination berarti hak pemilikan
berpindah pada saat barang sampai tempat tujuan (destination), jadi biaya
transportasi dibayar oleh penjual.
FOB
shipping point lebih banyak digunakan, jadi biaya pengiriman ditanggung oleh
pembeli barang. Dalam akuntansi biaya untuk mendapatkan aktiva adalah seluruh
biaya yang timbul untuk mendapatkan aktiva termasuk biaya
transportasi/pengiriman.
Untuk
persediaan biayanya merupakan biaya
bersih setelah dikurangi berbagai potongan dan ditambah biaya transportasi yang
dibebankan.
Contoh
: 5 April 20xx PT. ABC menerima tagihan dari perusahaan
ekspedisi atas biaya pengiriman barang dagangan sebesar Rp. 500.000,-
Jurnalnya adalah :
5 April 20xx Persediaan Rp.
500.000,-
Kas/Hutang Rp. 500.000,-
(pembayaran
tagihan ongkos angkut)
Pilihan lain Prosedur untuk
Potongan Pembelian, Retur dan Potongan Harga Pembelian dan Biaya Transportasi.
Bila
di inginkan pencatatan yang lebih rinci atas Potongan Pembelian, Retur dan
Potongan Harga Pembelian dan Biaya Transportasi, maka akun – akun tersebut
merupakan akun bernilai sisa kredit dan merupakan akun kontra dari akun Persediaan
barang dagangan.
Dengan
demikian pelaporan akun-akun tersebut dalam laporan keuangan digabungkan dengan
akun persediaan seperti tergambar dibawah ini :
Persediaan Rp.
10.000.000,-
Dikurangi :
o
Potongan Pembelian
1.000.000,-
o
Retur Pembelian dan Potongan Harga 4.700.000,-
Pembelian
Bersih Persediaan Rp. 4.300.000,-
Ditambah
: Ongkos Angkut Rp. 500.000,-
Total
Biaya Persedian Rp. 4.800.000,-
Penjualan Persediaan dan Harga Pokok Penjualan
Penjualan Kas. Misalnya tanggal 5
April Penjualan tunai Rp. 5.000.000,-
Jurnal :
5 April Kas Rp.
5.000.000,-
Penjualan Rp.
5.000.000,-
Untuk memperbaharui catatan
persediaan, perusahaan juga harus mengurangi nilai persediaan sesuai dengan
harga perolehannya. Misalnya harga perolehan atas barang yang dijual sebesar
Rp. 3.500.000,-, harus memindahkan persediaan sebesar Rp. 3.500.000,- dengan
cara mengkredit dan mendebet akun Harga Pokok Penjualannya.
5 April Harga
Pokok Penjualan Rp.
3.500.000,-
Persediaan Rp.
3.500.000,-
(pencatatan
HPP)
Potongan Penjualan, Retur dan Potongan Harga Penjualan
Potongan
Penjualan, Retur dan Potongan Harga Penjualan merupakan akun kontra dari
Pendapatan Penjualan yang akan menurunkan jumlah pendapatan yang diperoleh
perusahaan dari penjualan barang dagangan. Potongan harga penjualan merupakan
akun untuk menampung atas barang yang rusak.
Akun yang dibuat perusahaan ada dua
yaitu akun Potongan penjualan dan akun Retur dan potongan harga penjualan.
Contoh : 7 April , PT.
ABC menjual 5 unit barang elektronik seharga Rp. 5.000.000,- secara kredit
dengan syarat pembayaran 5/15n/30. Harga pokok persediaan tersebut Rp.
4.000.000,-.
Ayat jurnalnya adalah :
7 April Piutang
dagang 5.000.000,-
Penjualan 5.000.000,-
(mencatat
penjualan secara kredit)
7 April Harga
Pokok Penjualan 4.000.000,-
Persediaan 4.000.000,-
(mencatat
HPP)
Kemudian 10 April
pembeli mengembalikan 1 unit barang seharga Rp. 1.000.000,- karena tidak sesuai
dengan pesanan.Harga perolehan barang retur senilai Rp. 800.000,-.
Jurnal returnya adalah :
10 April Retur
dan Potongan harga 1.000.000,-
Piutang
Dagang 1.000.000,-
(mencatat
retur barang yang dikembalikan atas piutang)
10 April Persediaan 800.000,-
Harga
Pokok Penjualan 800.000,-
(mencatat
penerimaan barang persediaan yang dikembalikan)
Kemudian 12 April pembeli menuntut
potongan harga atas barang yang rusak, dan oleh penjualan diberikan potongan
sebesar Rp. 100.000,-
Jurnalnya :
12 April
Retur dan Potongan harga 100.000,-
Piutang
Dagang 100.000,-
(mencatat
pemberian potongan harga atas barang yang rusak, akun persediaan tidak di
jurnal karena barang tidak dikembalikan)
Piutang Dagang
7 April 5.000.000 10 April 1.000.000
12
April 100.000
Saldo 3.900.000
Pada tanggal 20 April PT. ABC menerima
pembayaran separoh dari piutangnya, dan setengahnya lagi diterima pada tanggal
1 Mei.
Jurnal yang dibuat :
20 April Kas
1.755.000,-
Potongan
Penjualan 195.000,-
Piutang
dagang 1.950.000,-
(mencatat
pembayaran dari pembeli pada masa potongan, (potongan = 1.9250.000 x 10 %))
1 Mei Kas 1.950.000,-
Piutang
dagang 1.950.000,-
(mencatat
pelunasan piutang dimasa setelah tidak ada potongan)
Penghitungan Fisik Persediaan Barang Dagangan
Dalam sistem
persediaan perpetual perusahaan mempunyai akun Persediaan Barang Dagangan
(merchandise inventory), akun ini dapat menunjukkan saldo persediaan setiap
saat. Tetapi saldo secara fisik mungkin saja berbeda dengan saldo menurut
catatan persediaan. Perbedaan ini bisa disebabkan oleh karena penyusutan,
dicuri, kesalahan mencatat, kesalahan kode dan lain-lain.
Apabila setelah dihitung secara fisik
(stock opname) terdapat perbedaan dengan catatan yang dibuat, maka akun
Persediaan barang dagangan harus disesuaikan. Jurnal penyesuaiannya adalah
sebagai berikut :
Harga
Pokok Penjualan xxxxx
Persediaan
Barang Dagangan xxxxx
(mencatat
selisih bila : perhitungan fisik lebih kecil dari catatan perusahaan, dicatat
sebesar selisih perhitungannya)
Persediaan
Barang Dagangan xxxxx
Harga
Pokok Penjualan xxxxx
(mencatat selisih bila : perhitungan
fisik lebih besar dari catatan
perusahaan, dicatat sebesar selisih perhitungannya)
Berikut disajikan beberapa Contoh Bentuk
Laporan Keuangan sampai Laba(Rugi) Kotor :
Perusahaan Dagang Arumba
Adhi
Laporan Laba Rugi
1 – 31 Desember 20xx
Penjualan Rp.
5.000.000,-
Dikurangi :
-
Potongan Penjualan Rp. 195.000,-
-
Retur Penjualan dan Potongan Harga Rp. 1.100.000,- +
Penjualan Bersih Rp.
3.705.000,-
Harga Pokok Penjualan :
Persediaan
1 Des 20xx Rp. 500.000,-
Persediaan
Siap untuk dijual Rp.
4.000.000,-
Persediaan
31 Des 20xx Rp.
800.000,- -
Laba Kotor Rp. 505.000,-
Berikut contoh transaksi perusahaan dagang :
Data tambahan :
a. Pendapatan bunga belum tertagih
Rp. 600.000,-
b. Sisa persediaan Rp.
24.500.000,-
c. Asuransi yang terpakai Rp
800.000,-
d. Penyusutan Rp. 700.000,-
e. Gaji terhutang Rp. 2.400.000,-
f. Beban bunga terhutang Rp. 500.000,-
Jurnal yang dibuat :
a. Piutang Dagang 600.000,-
Pendapatan Bunga 600.000,-
b. Harga Pokok Penjualan 1.000.000,-
Persediaan 1.000.000,-
c. Beban Asuransi 800.000,-
Asuransi dibayar dmk 800.000,-
d. Penyusutan 700.000,-
Akumulasi Penyusutan 700.000,-
e. Beban Gaji 2.400.000,-
Hutang Gaji 2.400.000,-
f. Beban Bunga 500.000,-
Hutang Bunga 500.000,-
Setelah dibuatkan jurnal
Penyesuaiannya langkah berikutnya kemudian dientry ke dalam neraca lajur
seperti dibawah ini :
Perusahaan Arumba Adhi
Laporan Laba Rugi
Periode 1- 31 Desember
20xx
Penjualan Rp.
60.000.000,-
Dikurangi :
-
Potongan Penjualan Rp.
2.000.000,-
-
Retur Penjualan dan Potongan Harga Rp. 6.000.000,- +
Penjualan Bersih Rp.52.000.000,-
Harga Pokok Penjualan Rp.37.000.000,-
_
Laba Kotor Rp.15.000.000,-
Beban Operasi :
-
Beban
Gaji Rp.
5.400.000,-
-
Beban
Sewa Rp.
1.200.000,-
-
Beban
Penyusutan Rp. 700.000,-
-
Beban
Asuransi Rp. 800.000,- Rp.
8.100.000,-
Laba (Rugi) Operasi Rp. 6.900.000,-
Pendapatan dan Beban Lain-lain :
-
Pendapatan
Bunga Rp. 1.400.000,-
-
Beban
Bunga (Rp.
2.000.000,-)
Laba Bersih sebelum Pajak Rp. 6.300.000,-
Prusahaan Arumba Adhi
Neraca
31 Desember 20xx
Aktiva Kewajiban
Aktiva Lancar :
-
Kas 20.500.000 Hutang Dagang 30.300.000
-
Piutang
Dagang 25.600.000 Hutang
Gaji 2.400.000
-
Persediaan 24.500.000 Hutang Bunga 500.000
-
Asuransi
Dibayar dimuka 1.600.000
Total Aktiva
Lancar 72.200.000 Total Kewajiban 33.200.000
Aktiva Tetap : Equitas
Pemilik :
-
Mebel 10.000.000 - Modal 50.000.000
-
Akumulasi
Penyst. ( 2.700.000) - Prive (10.000.000)
- Laba bersih
6.300.000
Total Aktiva Tetap
7.300.000 Total Equitas 46.300.000
Total Aktiva 79.500.000 Total
Pasiva 79.500.000
Prusahaan Arumba Adhi
Laporan Perubahan
Ekuitas
31 Desember 20xx
Modal awal,
1Desember 20xx Rp.
50.000.000,-
Ditambah : - Laba bersih Rp. 6.300.000,-
Total Rp.
56.300.000,-
Dikurangi : - Prive Rp.
10.000.000,-
Modal per 31 Desember 20xx Rp. 46.300.000,-
Demikianlah materi tentang Akuntansi Perusahaan Dagang dan jangan lupa juga untuk menyimak materi tentang Pengertian, Jenis-jenis dan Dasar Hukum Cek.
