iklan
Untuk menjaga aktiva, memastikan
akurasi, kejujuran dan efisiensi penanganan sumber-sumber daya dan pencatatan
transaksi-transaksinya setiap perusahaan harus mempunyai sistem pengendalian
intern. Pengendalian intern tidak menghilangkan kekeliruan, kesalahan dan
kecurangan-kecurangan yang terjadi pada perusahaan, tapi pengendalian intern
dimaksudkan untuk dapat mengetahui kasalahan dengan cepat dan segera
menanganinya, menekan serendah mungkin masalah-masalah tersebut.
1. Pengertian
Pengendalian Intern
Pengendalian intern sangat
penting bagi kelagsungan kegiatan perusahaan. Tanpa pengendalian intern yang
baik bisa menyebabkan perusahaan tidak memperoleh laba yang optimal bahkan bisa
menyebabkan perusahaan gulung tikar.
Pengertian pengendalian
intern dalam buku “Accounting” yang diterjemahkan oleh Aria
Farahmita dkk, adalah:
“Pengendalian internal (internal
control) adalah kebijakan dan prosedur yang melindungi aktiva perusahaan dari
kesalahan penggunaan, memastikan bahwa informasi usaha yang disajikan akurat
dan meyakinkan bahwa hukum serta peraturan telah diikuti.” (Warren Reeve Fess,
2005:235)
Dari pengertian diatas
dapat diuraikan bahwa manajemen bertanggungjawab menyiapkan laporan keuangan
untuk investor, kreditor dan para pemakai lainnya baik secara hukum maupun profesionalnya
untuk meyakinkan bahwa informasi disajikan secara benar, jujur dan dapat
dipercaya.
Pengendalian dalam suatu
organisasi bertujuan untuk mendorong penggunaan sumber dayanya termasuk pegawai
secara efektif dan efisien untuk mengoptimalkan tujuan organisasi. Pengendalian
juga dimaksudkan untuk mengawasi manajemen agar setiap kegiatan perusahaan
tidak bertentangan dengan undang-undang yang berlaku, meskipun undang-undang
tersebut tidak berkaitan langsung dengan kegiatan perusahaan.
Dari definisi pengendalian
intern diatas terdapat beberapa konsep dasar berikut:
a.
Pengendalian
intern merupakan suatu proses. Pengendalian intern merupakan suatu proses untuk
mencapai tujuan tertentu. Pengendalian intern merupakan suatu rangkaian
tindakan yang menjadi bagian tidak terpisahkan, bukan hanya sebagai tambahan
dari infra struktur perusahaan.
b.
Pengendalian
intern dijalankan oleh orang. Pengendalian intern bukan hanya terdiri dari
pedoman kebijakan dan formulir, namun dijalankan oleh orang dari setiap jenjang
organisasi yang mencakup dewan komisaris, manajemen dan personel lain.
c.
Pengendalian
intern dapat diharapkan mampu memberikan keyakinan memadai, bukan keyakinan
mutlak bagi manajemen dan dewan komisaris perusahaan. Keterbatasan yang melekat
dalam semua sistem pengendalian intern dan pertimbangan manfaat dan pengorbanan
dalam pencapaian tujuan pengendalian menyebabkan pengendalian intern tidak
dapat memberikan keyakinan mutlak.
d.
Pengendalian
intern ditujukan untuk mencapai tujuan yang saling berkaitan antara pelaporan
keuangan, kepatuhan dan operasi.
2. Tujuan
Pengendalian Intern
Seperti yang telah disebutkan oleh definisi-definisi
pengendalian intern diatas, tujuan pengendalian intern adalah untuk memberikan
keyakinan memadai dalam pencapaian tiga golongan tujuan.
Berdasarkan buku “Auditing”, tiga tujuan
pengendalian intern adalah:
“(1)
keandalan informasi keuangan, (2)
kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku, (3) efektivitas dan
efisiensi operasi.” (Mulyadi, 2002:180)
Tiga golongan tujuan diuraikan sebagai
berikut:
1. Reliability of Financial Reporting
(Keandalan Laporan Keuangan)
Manajemen
bertanggungjawab atas menyiapkan laporan keuangan untuk investor, kreditur, dan
para pemakai lainnya. Manajemen mempunyai tanggung jawab baik hukum dan profesional
untuk meyakinkan bahwa informasi tersebut disiapkan secara wajar dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum.
2. Efficiency and Effectiveness of Operations
(Efisiensi dan Efektivitas Operasional)
Kendali dalam
suatu organisasi dimaksudkan untuk mendorong penggunaan yang efektif dan efisien
atas sumber dayanya, mencakup personil, untuk mengoptimalkan sasaran
perusahaan. Bagian penting dari kendali ini adalah informasi yang akurat untuk
pengambilan keputusan intern. Berbagai informasi digunakan untuk membuat
keputusan bisnis. Bagian penting lainnya dari efektivitas dan efisiensi adalah
melindungi aktiva dan arsip perusahaan. Aktiva fisik suatu perusahaan dapat
dicuri, disalahgunakan, atau hancur secara tidak sengaja kecuali jika mereka
dilindungi oleh kendali yang cukup. Hal yang sama berlaku untuk aktiva non
fisik seperti piutang dagang, dokumen penting (kontrak pemerintah yang
rahasia), dan catatan (buku besar umum dan jurnal). Melindungi aktiva dan
catatan tertentu telah menjadi makin penting sejak kehadiran sistem komputer.
Sejumlah besar informasi yang disimpan pada media komputer dapat hancur jika
tidak ada perhatian untuk melindungi mereka. Melindungi arsip juga mempengaruhi
keandalan laporan keuangan.
3. Compliance With Aplicable Laws and
Regulations (Kepatuhan Ketentuan Hukum dan
Regulasi yang Diterapkan)
Setiap
kegiatan perusahaan tidak boleh bertentangan dengan ketentuan hukum dan
peraturan yang berlaku, meskipun hukum dan peraturan tersebut tidak berkaitan
secara langsung dengan kegiatan perusahaan.
3. Komponen-Komponen
Pengendalian Intern
Agar tujuan pengendalian
intern tercapai maka diperlukan komponen-komponen pengendalian intern yang
saling berhubungan. Apabila salah satu komponen tidak mencukupi maka
keseluruhan pengendalian intern tidak akan berjalan efektif walaupun komponen
lainnya sangat efektif.
Pengendalian intern
meliputi lima kategori pengendalian yang dirancang dan diimplementasikan oleh
manajemen untuk memberikan jaminan bahwa sasaran hasil pengendalian manajemen
akan terpenuhi.
Menurut “Standar Profesional Akuntan Publik”,
lima komponen pengendalian intern tersebut adalah:
“Pengendalian
intern terdiri dari lima komponen yang saling terkait berikut ini:
a. Lingkungan
pengendalian menetapkan corak suatu organisasi, mempengaruhi kesadaran pengendalian
orang-orangnya. Lingkungan pengendalian merupakan dasar untuk semua komponen
pengendalian intern, menyediakan disiplin dan struktur.
b. Penaksiran
risiko adalah identifikasi entitas dan analisis terhadap risiko yang relevan
untuk mencapai tujuannya, membentuk suatu dasar untuk menentukan bagaimana
risiko harus dikelola.
c. Aktivitas
pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang membantu menjamin bahwa arahan
manajemen dilaksanakan.
d. Informasi
dan komunikasi adalah pengidentifikasian, penengkapan, dan pertukaran informasi
dalam suatu bentuk dan waktu yang memungkinkan orang melaksanakan tanggungjawab
mereka.
e. Pemantauan
adalah proses yang menentukan kualitas kinerja pengendalian intern sepanjang
waktu.” (IAI, 2001:319.2)
Dari kutipan diatas lima
komponen pengendalian intern tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Lingkungan
Pengendalian (Control Environment)
Lingkungan
pengendalian menciptakan suasana pengendalian dalam sautu organisasi dan
mempengaruhi kesadaran personil organisasi tentang pengendalian. Lingkungan
pengendalian perusahaan terdiri dari beberapa faktor sebagai beriku:
- Nilai integritas dan etika.
- Komitmen terhadap kompetensi.
- Dewan komisaris dan komite audit.
- Filosofi dan gaya operasi manajemen.
- Struktur organisasi.
- Pembagian wewenang dan pembebanan tanggung jawab.
- Kebijakan dan praktik sumber daya manusia.
2. Penetapan
Risiko (Risk Assesment)
Kesatuan
perkiraan risiko yang timbul betrtujuan untuk mengidentifikasi, menganalisis
dan mengelola risiko yang berhubungan dengan persiapan laporan kauangan yang
akan disajikan berdasarkan prinsip akuntansi yang diterima umum.
Penaksiran
risiko manajemen harus mencakup pertimbangan khusus terhadap risiko yang dapat
timbul dari perubahan keadaan, seperti:
- Perubahan dalam lingkungan operasi.
- Personel baru.
- Sistem informasi yang baru atau yang diperbaiki.
- Teknologi baru.
- Lini produk, produk atau aktivitas baru.
- Operasi luar negeri.
- Standar akuntansi baru.
3. Informasi
Komunikasi (Information and communication)
Tujuan dari
laporan informasi dan komunikasi adalah untuk mengidentifikasi, mengumpulkan,
mengklasifikasikan, menganalisa, mancatat dan melaporkan transaksi dalam
perusahaan serta menyelenggarakan pertanggungjawaban terhadap asset perusahaan.
4. Aktivitas
Pengendalian (Control Activities)
Aktivitas
pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang dibuat untuk memberikan
keyakinan bahwa petunjuk yang dibuat oleh manajemen dilaksanakan serta tindakan
yang diperlukan telah dilaksanakan untuk mengurangi risiko dalam pencapaian
tujuan perusahaan. Aktivitas pengendalian digolongkan sebagai berikut:
- Pengendalian pengolahan informasi.
- Pemisahan fungsi yang memadai.
- Pengendalian fisik atas kekayaan dan catatan.
- Review atas kinerja.
5. Pemantauan
(Monitoring)
Pemantauan
adalah proses penilaian kualitas kinerja pengendalian intern sepanjang waktu.
Pemantauan dilaksanakan oleh personil yang semestinya melakukan pekerjaan
tersebut, baik pada tahap desain maupun pengoprasian pengendalian, pada waktu
yang tepat, untuk menentukan apakah pengendalian intern beroperasi sebagaimana yang
diharapkan dan untuk menentukan apakah pengendalian intern tersebut telah
memerlukan perubahan karena terjadinya perubahan keadaan.
4. Keterbatasan
Pengendalian Intern
Terlepas dari bagaimana
bagusnya desain dan operasinya, pengendalian intern hanya dapat memberikan
keyakinan mamadai bagi manajemen dan dewan komisaris berkaitan dengan
pencapaian tujuan pengendalian intern perusahaan. Kemungkinan pencapaian
tersebut dipengaruhi oleh keterbatasan bawaan yang melekat dalam pengendalian
intern.
Berdasarkan buku “Auditing”, keterbatasan bawaan
tersebut adalah:
“Berikut
ini adalah keterbatasan bawaan yang melekat dalam setiap pengendalian intern:
1. Kesalahan
dalam pertimbangan. Seringkali, manajemen dan personel lain dapat salah
mempertimbangkan keputusan bisnis yang diambil atau dalam melaksanakan tugas
rutin karena tidak memadainya informasi.
2. Gangguan.
Gangguan dalam pengendalian yang telah ditetapkan dapat terjadi karena personel
secara keliru memahami perintah atau membuat kesalahan karena kalalaian, tidak
adanya perhatian, atau kelelahan. Perubahan yang bersifat sementara atau
permanen dalam personel atau dalam sistem dan prosedur dapat pula mengakibatkan
gangguan.
3. Kolusi.
Tindakan bersama beberapa individu untuk tujuan kejahatan disebut dengan kolusi
(collusion). Kolusi dapat mengakibatkan bobolnya pengendalian intern yang
dibangun untuk melindungi kekayaan entitas dan tidak terungkapnya
ketidakberesan atau tidak terdeteksinya kecurangan oleh pengendalian intern
yang dirancang.
4. Pengabaian
oleh manajemen. Manajemen dapat mengabaikan kebijakan atau prosedur yang telah
ditetapkan untuk tujuan yang tidak sah seperti keuntungan pribadi manajer,
penyajian kondisi keuangan yang berlebihan, atau kepatuhan semu. Contohnya
adalah manajemen melaporkan laba yang lebih tinggi dari jumlah sebenarnya untuk
mendapatkan bonus lebih tinggi bagi dirinya atau untuk menutupi
ketidakpatuhannya terhadap peraturan perundangan yang berlaku.
5. Biaya
lawan manfaat. Biaya yang diperlukan untuk mengoperasikan pengendalian intern
tidak boleh melebihi manfaat yang diharapkan dari pengendalilan intern
tersebut. Karena pengukuran secara tepat baik biaya maupun manfaat biasanya
tidak mungkin dilakukan, manajemen harus memperkirakan dan mempertimbangkan
secara kuantitatif dan kualitatif dalam mengevaluasi biaya dan manfaat suatu
pengendalian intern. (Mulyadi, 2002:181)
Berdasarkan
kutipan diatas dapat diketahui bahwa pengendalian intern tidak dapat
menghilangkan semua masalah-masalah yang dihadapi oleh perusahaan. Pengendalian
intern memiliki keterbatasan yang mendasar, sehingga pengendalian intern hanya
berfungsi untuk mengetahui masalah-masalah yang terjadi dengan cepat dan
menekan serendah mungkin masalah dan kecurangan-kecurangan yang terjadi dalam
perusahaan.
Demikian yang dapat kami sampaikan
moga bermanfaat bagi kita semua. Aminn
