iklan
Konsolidasi
merupakan satu bentuk penggabungan usaha dimana satu perusahaan yang baru
terbentuk mengambil alih semua aktiva dan operasi dari dua atau lebih
perusahaan lain yang kemudian dibubarkan.
![]() |
| Laporan Keuangan Konsolidasi |
1. Pengertian Laporan Keuangan Konsolidasi
Laporan Keuangan Konsolidasi
adalah Laporan yang menyajikan posisi keuangan dan hasil operasi untuk induk
perusahaan (entitas pengendali) dan satu atau lebih anak perusahaan (entitas
yang dikendalikan) seakan – akan entitas – entitas individual tersebut merupakan
satu entitas atau perusahaan satu perusahaan.
Laporan Keuangan Konsolidasi
diperlukan apabila salah satu perusahaan yang bergabung memiliki kontrol
terhadap perusahaan lain. Artinya; jika tidak memiliki hak kendali (control) yang
lebih, maka mereka adalah badan usaha (entity) mandiri, artinya mereka
masing-masing akan membuat laporan keuangan yang sendiri-sendiri dan tidak
mungkin untuk digabungkan, ditambahkan atau yang sejenisnya.
Tujuan laporan keuangan
konsolidasi Adapun maksud dan tujuan Laporan Keuangan Konsolidasi disusun,
yaitu: agar dapat memberikan gambaran yang obyektif dan sesuai atas keseluruhan
posisi dan aktivitas dari satu perusahaan (economic entity) yang terdiri atas
sejumlah perusahaan yang berhubungan istimewa, dimana laporan konsolidasi
keuangan diharapkan tidak boleh menyesatkan pihak-pihak yang berkepentingan dan
harus didasarkan pada substansi atas peristiwa ekonomi juga. Konsolidasi diharuskan jika satu
perusahaan memiliki mayoritas saham beredar dari perusahaan lain.
2. Manfaat Laporan Keuangan Konsolidasi
·
Dapat memberikan gambaran yang jelas tentang total sumber daya
perusahaan hasil gabungan di bawah kendali induk perusahaan, kepada para
pemegang saham, kreditor dan peyedia dana lainnya.
· Dapat memberikan informasi terkini bagi manajemen induk
perusahaan, baik mengenai operasi gabungan dari entitas konsolidasi dan juga
mengenai perusahaan individual yang membentuk entitas konsolidasi.
3. Kelemahan laporan keuangan konsolidasi
Perlu disadari; Disamping memberi manfaat,
laporan keuangan konsolidasi juga dapat menjadi ekses yang tidak baik, antara
lain:
a. Dapat menyembunyikan
kinerja perusahaan individu yang tidak bagus dengan kinerja perusahaan lain
yang bagus.
b. Tidak semua saldo laba
ditahan konsolidasi tersedia untuk dividen induk perusahaan, begitu pula dengan
aktiva.
c. Rasio keuangan
berdasarkan laporan keuangan konsolidasi yang terbentuk tidak mencerminkan
kondisi entitas yang membentuk konsolidasi maupun induk perusahaan.
d. Beberapa akun tidak
dapat seluruhnya dibandingkan, misalnya akun piutang
e. Banyaknya informasi
tambahan yang dibutuhkan untuk memberikan penyajian yang wajar.
Merger & Acquisition Accounting (Dasar)
Penggabungan Usaha adalah salah
satu strategy dari aktivitas perluasan usaha yang banyak dilakukan. Dan
penggabungan usaha pilihannya ada 2 (dua), yaitu: Merger & Acquisition.
Sebagai pegawai
accounting dan keuangan (mulai dari staff hingga management) mau tidak mau
harus memahami prosedur dan bisa melakukan administrasi atas kejadian ekonomi
seperti ini. Itulah sebabnya mengapa memahami Merger & Acquisition Accounting
adalah penting bagi orang-orang accounting dan keuangan.
Jika dicarikan
definisinya, penggabungan usaha adalah aktifitas perluasan usaha yang dilakukan
dengan cara menggabungkan suatu perusahaan dengan satu atau lebih perusahaan
lain ke dalam satu kesatuan ekonomi, sebagai upaya untuk memperluas usaha.
Tentu banyak
possibilities penyebab mengapa melakukan penggabungan usaha, diantara banyaknya
kemungkinan yang ada, berikut ini adalah kemungkinan penyebab (alasan) yang
paling common:
a.
Investment profitability
Melakukan
investasi pada perusahaan yang sehat dan memiliki tingkat profitability yang
tinggi adalah salah satu alasan mengapa penggabungan usaha adalah pilihan
perluasan usaha. Dengan berinvestasi pada perusahaan yang profitable, maka
perusahaan akan berkesempatan untuk ikut menikmati keuntungan yang didapatkan
oleh perusahaan investee.
Diversifikasi
usaha (business diversification) adalah strategy lainnnya yang banyak ditempuh.
Dengan menguasai berbagai bidang usaha yang berbeda-beda akan membuka
kesempatan untuk memperoleh gain yang lebih banyak lagi dalam business.
Peningkatan
skala perusahaan (business scale) adalah alasan lain mengapa dilakukan
penggabungan usaha. Setelah penggabungan terjadi, tentu asset perusahaan akan
bertambah, kapasitas bertambah, jangkauan pasar akan lebih luas dan yang
tentunya akan diikuti oleh peningkatan omset, integrasi dari peningkatan itulah
yang akan menyebabkan skala perusahaan menjadi bertambah besar.
No business
could be a risk free. Definitely no. Dengan kata lain; adalah tidak mungkin
menghilangkan resiko dari sebuah business, yang mungkin adalah berusaha
me-manage resiko yang ada, tentunya dengan berbagai strategy yang diterapkan.
Menjalankan satu
usaha saja, disamping kesempatan untuk memperoleh gain yang lebih besar menjadi
lebih terbatas (dibandingkan jika melakukan diversifikasi), juga sama artinya
dengan menaruh business pada potensi resiko tanpa jalan keluar. Dengan ekspansi
usaha diharapkan resiko akan lebih tersebar sehingga akan menjadi lebih ringan,
atau resiko kerugian pada perusahaan yang satu, mungkin akan bisa ditutup oleh
perusahaan lain yang dimiliki.
Controlling
power gain is a typical reason. Ini adalah satu alasan khas mengapa suatu
perusahaan melakukan penggabungan usaha. Bisa dikatakan alasan inilah yang
paling mendominasi. Ada berbagai kemungkinan alasan mengapa suatu perusahaan
ingin mendapatkan kendali atas perusahaan lain, diantaranya:
1)
Market penetration
Hal ini biasanya
dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar yang mengalami kesulitan untuk
memasuki suatu area pasar tertentu.
Contohnya Danone ingin
memasuki pasar air mineral di Indonesia, sementara Aqua sudah mengurat akar di
masyarakat konsumen Indonesia, Danone tidak mempunyai pilihan lain selain
membeli Aqua untuk bisa memasuki pasar terbesar di south east asia (khususnya
Indonesia).
2)
Supplies sustainability
Ini biasanya dilakukan
oleh perusahaan besar yang mengalami kesulitan supply akibat raw material
dikuasai oleh perusahaan lain. Untuk memastikan sustainability supplies,
perusahaan tidak memiliki pilihan lain selain membeli perusahaan tersebut.
3)
Technology advancement
Banyak perusahaan yang
invest (read:acquisites) karena perusahaan investee memiliki technology yang
dianggap unggul dan mampu menopang kelangsungan businessnya. Contoh: Google Inc
mengakuisisi Feed Burner. Atau Times Warner yang mengakuisisi AOL.
4)
Reducing competition
Menguasai perusahaan
competitor adalah salah satu strategy untuk memenangkan persaingan.
Contohnya Issue yang paling hot saat ini adalah
penjualan Yahoo. Google Inc dan Microsoft Inc. sedang berusaha keras untuk bisa
mengakuisi Yahoo. Kita ketahui ketiganya adalah raksasa search engine terbesar
di muka bumi ini untuk era sekarang. Kita sama-sama lihat apakah nanti yahoo
akhirnya akan di akuisi oleh Google Inc. atau Microsoft Inc.
Pengambila-alihan
suatu usaha lain, sejatinya hanya dengan 2 (dua) kemungkinan cara, yaitu:
1) Net Asset Acquisition (Pengambil-alihan “Aktiva Bersih”)
Jika yang
diambil-alih adalah aktiva bersihnya, maka penggabungan usaha tersebut diacatat
sebagai MERGER atau bisa jadi CONSOLIDATION. Aktiva dan kewajiban dari
perusahaan yang diakuisisi dipindahkan ke perusahaan pengakuisisi dan
perusahaan yang diakuisisi dibubarkan atau dilikuidasi. Setelah merger operasi
dari perusahaan yang dulunya terpisah sekarang berada di bawah satu entitas.
2)
Share Acquisition
(Pengambil-alihan saham)
Dalam hal ini,
pengambil-alihan dilakukan dengan cara membeli saham mayoritas berhak-suara
perusahaan investee (bukan dengan mengambil alih aktiva bersihnya).
Jika perusahaan
yang diambil-alih dibubarkan (dilakuidasi), maka bentuk ini dicatat sebagai
“MERGER” atau bisa jadi “CONSOLIDATION” (berlaku seperti net asset acquisition
di atas).
Sedangkan jika
perusahaan terakuisisi tidak dibubarkan dan tetap sama-sama beroperasi, maka
penggabungan ini dicatat sebagai “SHARE ACQUISITION”. Selanjutnya, perusahaan
pengakuisisi disebut sebagai "PARENT COMPANY (Perusahaan Induk)"
sedangkan perusahaan terakuisisi selanjutnya disebut sebagai “SUBSIDIARY (Anak
Perusahaan)”.
Hubungan yang
timbul dari akuisisi saham disebut hubungan induk dan anak perusahaan. Induk
perusahaan (parent company) adalah perusahaan yang mengendalikan perusahaan
lain yang disebut sebagai perusahaan anak (subsidiary), biasanya melalui
pemilikian mayoritas di saham biasa.
Merger & Acquisition Accounting (Menengah)
Merger &
Acquisition Accounting melibatkan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan;
bagaimana transaksinya distrukturisasi, bagaimana kesepakatan (M&A)
dicatat, kapan konsolidasi dilakukan. Yang paling penting adalah
"bagaimana laporan M&A disusun" agar bisa me-representansi posisi
keuangan obyektif baik itu di sisi perusahaan induk (acquirer/parent company)
maupun subsidiary (acquire).
1. M&As require understanding of
accounting (no doubt!)
2. Need to see “behind the numbers”
3. Combining firms results in
substantially different financial statements, you should know about how to
account this.
4.
Controversy regarding M&A accounting: Purchase accounting
& Pooling-of-interests accounting.
Metode pencatatan M&A
Ada 2 (dua) metode pencatatan:
1. Purchase Method (Metode Pembelian):
Metode ini
mengakui adanya goodwill, dengan nilai goodwill sebesar selisih dari harga beli
dan harga wajar aktiva dan kewajiban yang diakuisisi.
Catatan:
Goodwill considered as a factor yang menyebabkan perusahaan dapat memperoleh laba di atas rata-rata. Seperti aktiva lainnya goodwill dinilai berdasarkan biaya perolehan awalnya dari pembeli jika dapat secara objective ditentukan, untuk selanjutnya di amortisasi.
Goodwill considered as a factor yang menyebabkan perusahaan dapat memperoleh laba di atas rata-rata. Seperti aktiva lainnya goodwill dinilai berdasarkan biaya perolehan awalnya dari pembeli jika dapat secara objective ditentukan, untuk selanjutnya di amortisasi.
2. Pooling of Interest Method (Metode Penggabungan kepemilikan)
Metode ini tidak
mengakui adanya goodwill karena tidak ada harga beli, hanya nilai buku yang
terbawa (diakui). Pada prakteknya,
masih banyak M&A yang menggunakan Pool of Interest Method.
1.
Terhindar dari peningkatan biaya depresiasi atas aktiva yang
direvaluasi.
2.
Terhindar dari beban amortisasi goodwill.
3.
Peningkatan fleksibilitas manajemen terkait dengan dividen.
4.
Manajemen memiliki kesempatan menciptakan laba yang sebelumnya
belum dilaporkan
5.
Menyembunyikan nilai kepentingan yang diberikan dalam M&A’s
6.
Melindungi manajemen dari kritik pemegang saham (harga beli aktiva
yang lebih tinggi dari nilai wajar aktiva)
Mendeterminasi “Nilai Beli” dalam “Purchase Method” M&A
Pembeli
memperhitungkan seluruh biaya perolehan sehubungan dengan akuisisi aktiva
bersih atau saham perushaan lain sebagai bagian dari harga beli. Ada beberapa
expenditure yang mungkin timbul dari M&A’s:
1.
Direct Expenditure: imbal jasa bagi penemu
(finder’s fee), Accounta fee, Lawyer Fee dan Appraisal fee
2.
Expenditure pengeluaran
efek:
biaya pendaftaran efek, audit, dan hukum sehubungan pendaftaran saham dan
komisi pialang.
3.
Indirect & General
Expenditure: biaya gaji accountant yang merupakan pegawai perusahaan
pengakuisisi dalam M&A’s
Pada tanggal 1
Januari 2008, Royal Bali Inc. (RBC) membeli semua aktiva dan kewajiban PT. Baik
Baik Saja (BBS) dalam satu merger dengan mengeluarkan 10,000 lembar saham PT.
Baik Baik Saja dengan nilai nominal $ 10. Saham yang dikeluaran tersebut
mempunyai nilai pasar $ 600,000. Royal Bali Inc mengeluarkan Legal expense dan
Appraisal expense sebesar $40,000 sehubungan dengan M&A’s dan biaya
pengeluaran saham sebesar $25,000. Total harga beli saham, sama dengan nilai
saham yang dikeluarkan Royal Bali Inc ditambah biaya tambahan yang terjadi sehubungan
dengan akuisisi aktiva.
Total Harga Beli dapat dihitung:
Nilai Wajar Saham yang
dikeluarkan = $ 600,000
Other Acquisition Cost = $40,000
--------------------------------------------------------
Total Harga Beli = $640,000
Total Harga Beli = $640,000
Saham yang dikeluarkan oleh Royal Bali Inc untuk melakukan M&A’s dinilai pada nilai wajar dikurangi dengan biaya pengeluaran saham.
Nilai tercatat sahamnya dihitung dengan:
Nilai Wajar Saham yang
dikeluarkan = $600,000
Biaya Pengeluaran Saham =
($25,000)
--------------------------------------------------------
Nilai tercatat saham = $575,000
Nilai tercatat saham = $575,000
Perbandingan Nilai Buku dengan Nilai Wajar M&A’s melalui pembelian aktiva bersih PT.
Baik Baik Saja menjadi sebagai
berikut:
Transaksi M&A dicatat dengan jurnal:
D : Kas dan Piutang = $ 45,000
D : Persediaan = $ 75,000
D : Tanah = $ 70,000
D : Bangunan & Peralatan = $
350,000
D : Paten = $ 80,000
D : Goodwill = $ 130,000
C : Kewajiban lancar = $ 110,000
C : Saham biasa = $ 100,000
C : Tambahan modal disetor = $
475,000
C : Biaya merger tangguhan = $
40.000
C : Biaya pengeluaran Saham
tangguhan = $ 25.000
Catatan:
1.
Goodwill sebesar $
130,000 berasal dari total harga beli aktiva bersih dikurangi dengan nilai
wajar dari aktiva bersih; $640,000 – $510,000 = $130,000
2.
Nilai Saham Biasa = $10
x $ 10,000 = $ 100,000
3.
Tambahan Modal disetor =
Nilai tercatat saham–Saham biasa= 575,000-100,000 = 475,000
M&A’s melalui Pembelian Saham (Share
Acquisition)
M&A’s yang
dilakukan melalui pembelian saham berhak suara dari perusahaan lain bukan
melalui akuisisi aktiva bersih disebut dengan SHARE ACQUISITION
(read;Acquisition saja).
Contoh kasus:
Royal Bali Inc menukarkan 10,000
lembar sahamnya dengan total nilai pasar $ 600,000 untuk semua saham PT. Baik
Baik Saja dalam transaksi pembelian, timbul biaya merger sebesar $40,000 dan
biaya pengeluaran saham $ 25,000 yang sebelumnya dicatat dalam Account
tangguhan. Untuk mencatat pembelian saham PT Baik Baik Saja, maka di jurnal:
D : Investasi pada saham PT. Baik Baik Saja = $640,000
C : Saham biasa = $100,000
C : Tambahan Modal disetor =
$475,000
C : Biaya merger tangguhan =
$40,000
C : Biaya pengeluaran saham
tangguhan = $25,000
Pelaporan Kepemilikan Antar-Perusahaan
Untuk investasi
pada saham biasa, pelaporan kepemilikan antar-perusahaan dapat menggunakan 3
(tiga) method, yaitu:
1.
Laporan Keuangan
Konsolidasi
2.
Expense Method
3.
Equity Method
Penerapan metode tergantung pada
”Control Level Factor” yang dimiliki investor pada investee.
1.
Expense Method: untuk tingkat
kepemilikan 0% - 20 % memiliki Control Level yang tidak signifikan.
2.
Equity Method: untuk tingkat
kepemilikan > 20% - 50 % memiliki Control Level yang signifikan.
3.
Laporan Keuangan
Konsolidasi: Tingkat kepemilikan > 50 % memiliki Control Level yang
dominant.
Selanjutnya kita bahas satu persatu untuk
masing-masing method di atas.
Expense Method
Outlined:
1.
Dicatat oleh investor berdasarkan biaya historisnya.
2.
Pendapatan diakui oleh investor jika deviden diumumkan oleh
invstee
3. Expense Method digunakan ketika
investor tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan atau tidak mempunyai
pengaruh yang signifikan atas investee, yang disebabkaan besarnya investasi
investor ke investee (kurang dari 20%)
Contoh Kasus:
PT. Royal Bali Cemerlang (RBC)
membeli 20% Saham biasa PT. Baik Baik Saja (BBS) senilai $100,000 pada awal
tahun tetapi tidak memiliki pengaruh sigifikan kepada BBS. Selama tahun
berjalan BBS memiliki laba bersih $50,000 dan membayar dividen $20,000.
PT. Royal Bali Cemerlang
mencatatnya dengan jurnal:
D : Investasi pada saham biasa
BBS = $100,000
C : Kas = $100,000
(Catatan: Untuk mencatat
pembelian pada saham biaya PT. Baik Baik Saja).
D : Kas = $4,000
C : Pendapatan Dividen = $ 4,000
(Catatan: Untuk mencatat pendapatan
dividen dari PT. Baik Baik Saja=$20.000 x 20%).
Catatan:
RBC hanya mencatat bagiannya atas
laba yang di bagikan oleh BBS dan tidak membuat jurnal untuk bagian yang tidak
dibagikan. Nilai tercatat investasi tetap sebesar biaya perolehan awal $ 100,000.
Equity Method (Metode Ekuitas)
Outlined:
1.
Ditujukan untuk mencerminkan perubahan Equity atau kepemilikan
investor dalam investee.
2.
Investasi dicatat sebesar biaya atau harga perolehan awal dan
disesuaikan tiap periode untuk bagian investor atas laba atau rugi investee dan
dividen yang diumumkan oleh investee
Equity Method diharuskan penggunaannya untuk pelaporan investasi dalam saham perusahaan jenis berikut ini:
1.
Corporate Joint Venture: Perush dimiliki dan dioperasikan oleh kelompok
usaha kecil, dimana tidak satu pun yang memiliki kepemilikan mayoritas dalam
saham biasa joint venture tsb.
2.
Perusahaan dengan kepemilikan investor atas saham berhak suara,
memberikan investor ”kemampuan untuk mempunyai pengaruh signifikan" atas
kebijakan operasi dan keuangan perusahaan.
Investor’s Equity Outlined:
Atas “Laba bersih” yang diumumkan oleh perusahaan investee:
a.
Dicatat pendapatan dari investasi
b.
Peningkatan account investasi
Atas ”Rugi bersih” yang diumumkan
oleh perusahaan investee:
Kebalikan jika “Laba Bersih”
Atas ”Pembagian Dividen” yang
diumumkan oleh perusahaan investee:
a.
Dicatat Kas/Piutang
b.
Mencatat Penurunan Account investasi
Contoh Kasus:
PT. Royal Bali Cemerlang (RBC) mengakuisisi
pengaruh signifikan atas BBS dengan membeli 20% Saham biasa PT. Baik Baik Saja
pada awal tahun. BBS melaporkan laba sebesar $60,000 untuk tahun berjalan.
RBC mencatat bagiannya atas laba BBS sebesar $ 12,000 dengan jurnal:
D : Investasi pada saham BBS = $12,000
C : Pendapatan dari Investee =
$12,000
(Pendapatan dari investasi pada
PT. Baik Baik Saja $60,000 x 20% = $12,000)
Catatan:
Jurnal ini disebut sebagai “Accrual Equity” yang biasanya dibuat sebagai Adjustment
jurnal pada akhir periode.
Apabila investee melaporkan kerugian untuk periode tersebut, investor mengakui
bagiannya atas rugi tersebut dan mengurangi nilai tercatat investasi sebesar
jumlah porsi kerugian.
Contoh Kasus:
PT. Royal Bali Cemerlang (RBC)
mengakuisisi pengaruh signifikan atas BBS dengan membeli 20% Saham biasa PT. Baik
Baik Saja pada awal tahun. BBS melaporkan laba sebesar $60,000 untuk tahun
berjalan. BBS juga mengumumkan dan membayar dividen sebesar $20,000.
RBC mencatat bagiannya atas dividen BBS dengan jurnal:
D : Kas = $4,000
C : Investasi (pd saham PT. Baik Baik Saja)=
$4,000
(Penerimaan dividen dari PT. Baik
Baik Saja 20% x 20.000)
Pada buku investasi akan kelihatan:
a.
Biaya Perolehan Awal
Investasi = $100,000
b.
Accrual Equity = $12,000
[=$60,000 x 20%]
c.
Dividen = ($4,000)
[=$20,000 x 20%]
----------------------------------------------------------
Saldo Investasi pada BBS = $108,000
Saldo Investasi pada BBS = $108,000
Demikian yang dapat kami sampaikan mengenai ulasasan tentang Pengertian, Tujuan dan Manfaat Serta Kelemahan Laporan Keuangan Konsolidasi semoga bermanfaat
